Mendengar hiruk pikuk orang, saya terbangun setelah baru saja tertidur pulas. Saat melihat arloji yang setia melingkar dipergelangan tangan, jarum jam menunjuk ke arah angka satu. Buru-buru saya membangunkan teman yang masih lelap tertidur. Sambil mengucek mata, akhirnya ia bangun dan segera mengemasi ransel serta tas kecil yang selalu dipegangnya. Tidak lama kemudian kami bergabung dalam barisan antrian untuk keluar dari kapal. Saat itu, pagi dini hari kami baru saja tiba di Pelabuhan Salakan.

Salakan merupakan ibukota Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah. Kota ini terletak di Pulau Peleng yang merupakan pulau terbesar di kabupaten yang terdiri dari banyak pulau ini.

Untuk memudahkan pengucapan, umumnya masyarakat Sulawesi Tengah menyebut Banggai Kepulauan dengan singkatan Bangkep. Wilayah kabupaten ini terdiri dari gugusan atau rangkaian pulau-pulau berukuran sedang dan kecil. Laut yang mengelilinginya merajut tebaran pulau itu menjadi satu gugusan yang disebut Banggai Kepulauan. Luas hamparan laut di wilayah ini lima kali lipat dibandingkan dengan luas daratannya. Dengan wilayah gografis kepulauan dan laut yang luas, wilayah ini kaya akan keindahan laut, pantai, dan pulau-pulau kecil yang mempesona. Ini tentunya memiliki potensi ikan dan laut untuk pengembangan wisata bahari.

Salakan, Banggai Kepulauan

Perjalanan untuk mencapai Bangkep perlu menggunakan berbagai jenis transportasi. Rute perjalanan saya diawali dengan perjalanan darat dengan mobil rental dari Kota Palu. Lama perjalanan lumayan juga, kurang lebih selama tujuh belas jam untuk menuju Kota Luwuk yang berjarak sekitar 607 km. Dari Kota Luwuk, untuk mencapai Salakan – Bangkep saya menggunakan transportasi kapal kayu yang secara reguler beroperasi tiap hari, yang ditempuh kurang dari empat jam. Walau perjalanan menuju ke Bangkep relatif lama, namun semua ini akan terbayar lunas olehΒ  pemandangan laut Bangkep yang sangat menyenangkan.


21 Komentar

prih · 12/03/2012 pada 22:11

Palu – Luwuk 17 jam sambung menyeberang ke salakan hampir 4 jam total 21 jam, benar2 butuh stamina dan semangat luar biasa. Pemandangan Bangkep sungguh indah menepis lelah ya pak Noer. Ikan laut pastinya segar ya plus dhabu2nya. Salam

    Noer · 13/03/2012 pada 09:46

    Betul bu, ikan di sini masih seger-seger. Kalo di Jakarta kan kita makan ikan yg sudah mati sepuluh kali

Hijauku Bumiku · 13/03/2012 pada 18:53

jalan2 sore,, Lestari alamku lestari desaku πŸ™‚

    Noer · 14/03/2012 pada 11:34

    Semoga kelestarian alam dapat mensejahterakan orang desa mas…

Ely Meyer · 13/03/2012 pada 22:51

lihat fotonya jadi kangen tanah air πŸ™‚

    Noer · 14/03/2012 pada 11:36

    Tanah air bagian dari hidup, jadi dimanapun gak lupa ya mbak…

sulunglahitani · 13/03/2012 pada 22:54

ambil fotonya langsung ya, mas?
waah, pasti bnyak pengalaman yg di dapat πŸ™‚

    Noer · 14/03/2012 pada 11:37

    Fotonya diambil langsung mas. Memang bener, banyak pengalaman & kenangan ketika kita berkunjung ke daerah-daerah…

FebriBlogs60v5 · 14/03/2012 pada 16:33

salam kenal om …keep posting … ditunggu kunal nya ya .. ada game nih http://ebizosys94.wordpress.com/2012/03/14/saatnya-menjadi-detective-ncis-tv-series-by-gameloft/

    Noer · 14/03/2012 pada 19:29

    Salam kenal juga mas…

Arumsekartaji · 14/03/2012 pada 20:58

Saya pernah naik pesawat merpati dari Palu ke Luwuk ditempuh selama 1 jam. Dari angkasa kota Banggai terlihat kecil dengan bukit tinggi mengelilingi kotanya. Begitu mendarat dan berkendara menuju Banggai, ibukota Luwuk ternyata kotanya begitu bersih, rapi dan yang menyenangkan saat itu sedang musim Duren Mas?
Begitu pula saat pulang ke Poso dengan naik bus, perjalanan dari Luwuk sore hari sampai Poso pagi hari. Memang melelahkan tapi perjalanan cukup menyenangkan. Banggai kepulauan saya belum sempat ke sana Mas?

    Noer · 15/03/2012 pada 09:29

    Tentu asik ya mbak bisa lihat pemandangan yg masih alami. Tapi, kayaknya perlu dijadwalkan lagi biar bisa ke Bangkep mbak. sekalian makan durian lagi dan makan ikan laut yang masih segar …

      Arumsekartaji · 15/03/2012 pada 11:49

      Justru saat kunjungan saya ke suku Wajo ( kalau tak salah yang bermukim di daratan ) saat itu bulan puasa. Jadi kegiatan makan durian pas maghrib saat bedug buka puasa berbunyi. Setelah sebutir buah durian, baru makanan pembuka ketan putih dan teh manis. Selepas sholat Isya dan Taraweh, barulah makan malam yang sebenarnya, yaitu nasi putih, sambal kecap irisan bawang merah dan ikan segar kakap merah yang dibakar. Barangkali saat ini jalan raya antara Luwuk ke Ampana sudah mulus dan tidak banyak jalan yang terputus alias longsor ya? Salam…..

onesetia82 · 15/03/2012 pada 16:32

sungguh pemandangan yg mengagumkan gan … πŸ™‚

Idah Ceris · 15/03/2012 pada 16:47

waah. . .

kalau ke Bangkep pasti iniotak jadi fresh ya pak? πŸ˜‰
itu perahu kayunya seperti apa?
besar atau kecil?

Kopral Cepot · 16/03/2012 pada 09:31

indah… adem ayem … kontradiktif dng hiruk pikuk kota

pelancongnekad · 17/03/2012 pada 01:06

menyenangkan sekali bisa jalan2 ke tempat yg sungguh bisa membuat otak fresh
πŸ˜‰

mobil butut · 17/03/2012 pada 12:19

hutan dikelilingi pantai, mantab

apakah ini yg dinamakan wisata wanabahari mas πŸ™‚

ysalma · 18/03/2012 pada 15:11

lingkungannya masih hijau, tenang, airnya bening banget.

joe abangirengku · 05/06/2012 pada 22:40

indonesia memang menyimpan sejuts keindahan

Dhymalk dhykTa · 18/06/2012 pada 02:59

Wah klo didaerahku namanya Pangkep (pangkajene kep). Hehe..
Prairan selat makassar mmg trkenal dgn jmlah ikanx yg banyak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *