Ulat Bulu

Ledakan populasi ulat bulu yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia mengusik ketenangan aktivitas warga, karena penyebarannya hingga ke wilayah pemukiman dan masuk ke rumah-rumah warga. Mengacu pada hukum causalitas, maka ledakan populasi ulat bulu ini tidak mungkin tanpa sebab. Kemudian, bila merujuk pada hukum Newton yang menerangkan dalil tentang aksi dan reaksi, maka dipastikan peristiwa ini terjadi karena ada perlakuan manusia yang kurang adil terhadap alam. Kelestarian ekosistem yang seharusnya terpelihara, realitasnya terabaikan dan bahkan sengaja dirusak.
Bahaya dari kerusakan ekosistem menyebabkan komponen-komponen yang menyusun ekosistem, yaitu keanekaragaman varietas (genetic, variety, atau subspecies diversity), keanekaragaman jenis (species diversity) juga ikut terganggu. Akibatnya, terjadilah kepunahan varietas atau jenis hayati yang hidup di dalam ekosistem, dan mata rantai makanan menjadi terputus. Disebabkan pemangsa alami (predator) dari ulat bulu telah punah, maka perkembangbiakan ulat bulu tidak terkendali.
Dalam beberapa dekade terakhir, tidak sedikit ekosistem di Sulawesi Tengah mengalami gangguan. Ini terutama berhubungan dengan eksploitasi yang jauh melebihi daya dukung; konversi hutan menjadi perkebunan pada areal yang sangat luas; dan terjadinya kebakaran hutan.
Salah satu peristiwa kebakaran hutan yang belum lama terjadi di Sulawesi Tengah, adalah di Kabupaten Parigi Moutong pada awal tahun 2011. Kebakaran hutan lainnya juga pernah terjadi pada hutan pinus hasil tanaman reboisasi yang tersebar di Kabupaten Donggala, Kabupaten Banggai dan kabupaten Morowali. Kebakaran hutan ini berawal dari kebakaran padang alang-alang yang kemudian menjalar dan membakar semak belukar dan pohon-pohon di sekitarnya.
Walaupun tidak menutup kemungkinan penyebab lain, namun diduga penyebab kebakaran hutan ini adalah akibat ulah manusia yang biasa berburu binatang rusa. Mereka secara sengaja membakar padang alang-alang, agar alang-alang tumbuh kembali dengan subur. Hamparan padang yang ditumbuhi alang-alang muda dengan daun yang tampak hijau dan segar, akan menarik binatang rusa untuk datang dan berkumpul, sehingga memudahkan para pemburu untuk menangkapnya.
Kerusakan hutan akibat dari kebakaran ini, tidak sedahsyat kerusakan akibat kebakaran yang biasa terjadi di Kalimantan, dimana kebakaran hutan mampu memusnahkan hutan sampai seluas ratusan hektar. Namun demikian, kebakaran hutan ini tetap menimbulkan dampak kerusakan ekosistem, dalam hal ini memutus mata rantai makanan, yang kemungkinan bisa saja memicu terjadinya ledakan ulat bulu.
Semoga, informasi tentang ledakan populasi ulat bulu yang tersebar luas melalui media televisi, memberi kesadaran kepada kita agar senantiasa memelihara kelestarian ekosistem.

2 pemikiran pada “Ulat Bulu

  1. Beberapa aspek dan faktor dari munculnya "keaneh an" ini 99,9% adalah faktor manusia. Namun menyikapi hal ini manusia diberi akal dan pemikiran setidaknya bisa STOP yang membuat sakit alam ini. Tentang ULAT BULU semoga ada yang mempunyai ide untuk menjadikan ini bukan bencana namun menjadi berkah, misalnya mengolah ulat bulu menjadi sesuatu yang berguna (mis pakan ikan/hewan piaraan).

  2. Kemungkinan untuk pakan ternak bisa saja sih. Sesungguhnya ulat ini serem ketika berbentuk ulat (stadium larva), tapi kalo sdh metamorfosis jadi kupu-kupu, malah mbantu manusia dan relative enak dipandang. Tks sdh followback, slm kenal …

Tinggalkan komentar